Kebiasaan Sepele yang Bikin Kita Miskin di Hari Tua

Fakhri Zahir
5 Jan 2020

Di era milenial seperti saat ini mencari uang tampaknya menjadi hal yang cukup mudah bagi orang-orang kreatif, namun sulit bagi sebagian lainnya. Namun bukan itu perkara yang ingin kami bicarakan.

Anda bisa saja mencari uang di banyak tempat saat ini, apalagi di era digital dimana Anda bisa mendapatkan uang dengan mudah layaknya Budi Gunawan alias Yosua si trader handal. Hanya saja setelah itu apa yang ingin Anda lakukan dengan uang Anda?

Kebanyakan orang bisa mencari uang dalam jumlah berapapun, namun sedikit orang yang mampu mengelola dan ‘mengembangkan’ uang yang mereka punya entah dalam jumlah sedikit ataupun banyak.

Hasil akhirnya? Tentu saja kesulitan keuangan di saat tua. Nah ini dia kebiasaan sepele yang bikin kita miskin saat tua, yang harus Anda hindari.

Membeli Hal yang Kita Inginkan

apple

Mengapa membeli hal yang kita inginkan membuat kita miskin? Mungkin Anda bingung dengan pernyataan yang kami buat. Namun cobalah dicermati bahwa kata-kata yang kami gunakan adalah hal yang kita inginkan dan bukan kita butuhkan.

Seringkali seseorang membeli barang yang mereka inginkan, dengan uang yang tidak mereka punya (berhutang) untuk membanggakan diri kepada orang-orang yang tidak peduli dengan harta mereka.

Hal-hal semacam ini umumnya melanda anak-anak muda yang baru pertama kali mendapatkan pekerjaan dan mulai bisa membeli barang-barang yang dahulu sulit mereka beli. Istilahnya sih balas dendam, wah bahaya!

Salah satu cara yang cukup populer untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan three day rule. Cara ini terbukti membantu banyak orang yang kesulitan menahan diri dalam membeli barang-barang tak berguna, dan alih-alih menambah tabungan mereka.

Caranya adalah ketika Anda memiliki impulsi untuk membeli barang yang tampaknya tidak Anda butuhkan, tunggulah hingga 3 hari. Bila dalam waktu 3 hari setelah muncul keinginan tersebut Anda masih menginginkan barang itu maka belilah tanpa rasa bersalah.

Di awal barangkali Anda akan kesulitan menerapkan cara ini, tapi kemudian banyak orang yang menerapkan cara ini mendapatkan kontrol yang lebih penuh terhadap hasrat mereka dalam berbelanja barang-barang yang mereka inginkan. Nah, kapan Anda mulai?

Makan Di Luar

makan di luar

Dengan berkembangnya bisnis makanan di Indonesia, kita bisa dengan mudah menemukan tempat-tempat makan dengan harga yang beragam dan rasa serta tampilan yang juga beragam, karena di era Instagram tampilan adalah segalanya bukan?

Apalagi dengan tuntutan hidup yang serba cepat di era digital seperti sekarang ini, banyak orang yang memilih untuk makan di luar dibandingkan harus memasak yang memang nampak cukup rumit.

Padahal setidaknya ada dua alasan penting mengapa makan di luar bukanlah hal yang baik bagi keuangan maupun tubuh kita:

  1. Harga yang harus Anda keluarkan untuk makan masakan seorang chef biasanya cukup mahal dibandingkan bila Anda harus memasak sendiri di rumah. Selain itu waktu yang Anda habiskan pun biasanya cukup banyak. Kalau Anda bilang memasak di rumah itu menghabiskan banyak waktu, harusnya Anda berpikir ulang.
  2. Kebanyakan bisnis makanan menggunakan bumbu dan rempah yang lebih banyak dari yang dibutuhkan. Alasannya tentu saja agar masakannya lebih nikmat dan lezat. Tentu saja ini hal yang baik, namun Anda harus tahu bahwa ada beberapa bumbu dan rempah yang tidak bisa dikonsumsi banyak dan terlalu sering, garam dan gula misalnya!

Dengan tidak makan di luar Anda sudah berinvestasi baik dari segi keuangan maupun dari segi kesehatan.

Nah tapi bukan berarti kamu tidak sama sekali makan di luar loh, Anda boleh-boleh saja sesekali makan di luar baik bersama pasangan, teman-teman, ataupun bersama keluarga. Tujuannya? Selain untuk rekreasi tentu saja agar hubungan Anda dengan orang lain menjadi lebih dekat!

Melakukan Refreshing dengan Mahal
alan walker konser

Beberapa orang beranggapan bahwa Anda harus menghabiskan uang semaksimal mungkin untuk menikmati hidup. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa setelah bekerja keras, mereka layak untuk menghabiskan banyak uang untuk refreshing.

Mulai dari nonoton konser, datang ke pertandingan-pertandingan olahraga (dengan membeli tiket VIP tentu), hingga dengan berlibur ke tempat-tempat yang boleh dibilang cukup mahal bagi mayoritas orang di Indonesia.

Alih-alih menghabiskan waktu dengan cara menikmati alam yang murah, banyak orang merasa harus menghabiskan uang mereka untuk membuat pikiran mereka segar lagi. Banyak orang yang mencari kebahagiaan di tempat-tempat itu.

Padahal seharusnya Anda sadar kalau kebahagiaan itu terletak pada diri Anda sendiri. Hal-hal macam ini bisa meningkat dalam beberapa tahun belakang karena media sosial. Karena di media sosial banyak orang-orang menjalani kehidupan palsu yang menginspirasi orang lain untuk mengikuti jalan hidup mereka.

Lihat saja feed instagram milik Anda, kebanyakan Anda bisa melihat teman-teman Anda yang misalnya sedang berlibur ke Labuan Bajo di atas kapal mewah, atau membuat story mengenai konser musik yang nyaris tiap minggu ia datangi.

Kalau Anda mau mengesampingkan godaan-godaan tersebut, Anda bisa mencari kesenangan di banyak tempat loh. Misalnya Amda bisa mengeksplorasi tempat-tempat rahasia dengan keindahan alam yang jarang Anda lihat di perkotaan.

Atau sekadar melakukan short escape dengan backpacking yang tentu akan jauh lebih murah ketimbang Anda menyewa resor-resor mahal di Bali.

Berhutang

utang

Bukan hanya milenial, kebiasaan berhutang merupakan salah satu kebiasaan yang lazim dilakukan manusia sejak zaman dahulu hingga zaman sekarang. Jawabannya? Tentu saja karena keinginan yang meluap-luap, meski tidak menutup kemungkinan kalau sebagian orang memang butuh.

Tidak bisa dipungkiri kalau ada beberapa orang yang memang benar-benar butuh berhutang, tapi sebenarnya ada beberapa pelajaran penting yang harus Anda pahami sebelum memutuskan untuk berhutang atau kredit:

  1. Hutang memaksa pelakunya mengeluarkan uang lebih dari yang mereka mampu – memang tidak absolut, tapi kebanyakan orang yang hobi berhutang akan cenderung lebih mudah tergoda untuk membeli barang yang mereka inginkan bahkan disaat kondisi keuangan mereka tidak cukup stabil. Alasannya? Tentu saja karena adanya letupan-letupan dopamin yang membuat orang bahagia ketika membeli suatu barang dengan cara berhutang, menutupi ilusi bahwa Anda sebenarnya belum cukup mampu membeli barang tersebut. Hasil akhirnya tentu saja kebiasaan yang berulang!
  2. Menciptakan kebiasaan meminjam kepada diri sendiri di masa depan – ketika Anda menggesekkan kartu kredit Anda, sebenarnya Anda seolah-olah sedang meminjam kepada diri Anda di masa depan, bahkan ketika Anda tidak 100% tahu bahwa apakah nantinya Anda memiliki uang untuk membayar tagihan-tagihan tersebut?
  3. Membuat batasan dalam menggapai target finansial – salah satu penghambat target financial atau dalam bahasa bekennya financial goals adalah tagihan hutang bulanan yang terus menerus membengkak. Oke bila hanya satu atau dua tagihan, tapi seringnya orang yang berhutang dan menggunakan kartu kredit akan menggunakan kartu kredit tersebut secara mudah. Akibatnya tanpa perhitungan yang jelas mereka akan merasa dibebani tagihan yang mencekik dan membuat mereka sendiri sulit mencapai target keuangan mereka.
  4. Memaksa diri membeli barang sehari-hari dengan berhutang – dalam satu atau dua kasus barangkali berhutang bisa menjadi solusi. Tapi tahukah Anda banyak dari pengguna kartu kredit yang belum cukup bijak sehingga menggunakan kartu kredit mereka. Awalnya barangkali mereka menggunakan kredit untuk kebutuhan tersier seperti laptop flagship, smartphone flaghsip, hingga mobil kedua dan seterusnya. Tapi lama-lama orang-orang yang kurang bijak ini bisa membeli bahkan makanan sehari-hari dengan menggunakan kartu kredit. Alasannya sih rata-rata karena tawaran diskon menggiurkan yang sulit ditolak, nah!
  5. Masalah medis pun muncul – tidak bisa dipungkiri meski bisa hidup bahagia dengan barang-barang mewah yang Anda beli dengan cara kredit, setiap bulannya Anda akan dihantui perasaan cemas karena harus membayar tagihan yang tidak sedikit. Masalah mental ini bisa membuat tubuh Anda memproduksi kortisol yang merupakan hormon stress. Produksi kortisol berlebih nyatanya akan membuat banyak penyakit di dalam tubuh bermunculan. Kesimpulannya sih memang bukan hal yang baik, atau dengan kata lain Anda sedang berinvestasi penyakit di masa mendatang!

Lupa Menabung dengan ‘Benar’

tabungan

Menabung saja tidak cukup untuk kelak menikmati hari tua Anda, alih-alih Anda harus bisa menabung uang dengan benar. Dengan benar maksudnya Anda harus bisa menempatkan uang Anda di ‘keranjang’ yang tepat dan bukan hanya menabung di satu tempat.

Tidak menabung merupakan masalah besar tentu saja, tapi menabung di bank saja juga merupakan salah satu masalah yang harus Anda perhatikan. Apalagi bila jumlah tabungan Anda tidak terlalu banyak.

Karena meski mendapatkan bunga yang selalu menggiurkan, nilai uang semakin lama tentu akan semakin turun hingga di satu titik di masa depan uang yang telah Anda tabung dengan susah payah nilainya justru tidak seberapa.

Nah untuk itulah Anda bisa belajar untuk menaruh uang Anda di tempat-tempat yang benar. Tapi untuk yang satu ini kami sarankan Anda untuk mencari advisor atau penasihat keuangan profesional ya.

Anda bisa misalnya menaruh uang di tempat-tempat investasi yang bagus, dan bagi yang muslim pun bisa menempatkan uang Anda di tempat-tempat investasi syariah yang terdaftar di MUI. Dengan demikian Anda bisa memastikan ‘perkembangan’ uang yang Anda tabung.

Tapi sekali lagi untuk berinvestasi dan bermain-main di dunia ini Anda perlu mentor keuangan yang ahli dan tentu saja harus mau belajar dengan giat. Karena tentu dengan menaruh uangmu di instrumen-instrumen investasi berarti Anda siap dengan segala risiko kehilangan yang mungkin ada.

Tampil Kaya

kaya dari muda

Tidak ada salahnya bergaya rapi dan meyakinkan, apalagi bagi Anda yang kerjanya berhadapan dengan banyak orang, tidak bisa dipungkiri kalau penampilan merupakan salah satu modal utama nan penting.

Tapi salah kalau Anda berpikir bahwa rapi sama dengan kaya. Ditambah lagi perkembangan media sosial yang begitu cepatnya di era sekarang membuat banyak anak muda berlomba-lomba tampil kaya di media sosial mereka.

Atau mudahnya sih Anda harus bisa membedakan apakahkamu memang benar orang kaya atau hanya pura-pura kaya saja. Karena jelas menjadi orang kaya itu 180 derajat berbanding terbalik dengan terlihat kaya.

Anda bisa cari selebgram ‘pura-pura kaya’ yang cukup terkenal di internet seperti Byron Denthon. Ia sukses membuktikan kalau di zaman sekarang ini memang banyak orang yang terobsesi dengan kekayaan dan kemewahan.

Hingga kemudian ia ‘mempermalukan’ banyak orang dengan mengatakan apakah kebanyakan Selebgram merupakan orang-orang yang merangkak dari nol atau karena memalsukan kekayaan mereka sehingga menjadi benar-benar terkenal.

Jangan sampai Anda terobsesi menjadi orang-orang macam ini ya, hanya karena ingin diakui di lingkungan pertemanan Anda berpura-pura kaya sehingga di dunia nyata justru Anda kehabisan uang untuk benar-benar hidup.

Tidak Memiliki Perencanaan Keuangan yang Matang

perencanaan keuangan

Kalau yang satu ini sih barangkali bukan hanya menimpa generasi muda Indonesia saja, melainkan banyak menimpa kalangan om-om dan tante-tante kita. Karena memang kecenderungannya orang Indonesia malas membuat perencanaan budget yang matang.

Padahal di era digital nan informatif seperti saat ini Anda sudah bisa mendapatkan banyak informasi mengenai cara membuat perencanaan keuangan dengan baik dan benar loh, bahkan banyak ahli yang membagikan info tersebut secara cuma-cuma.

Kalau Anda masih malas juga, bahkan banyak apps di apsstore maupun playstore yang membagikan aplikasi keuangan secara gratis loh. Nah sekarang tinggal apakah Anda mau memanfaatkan previlege yang ada atau tidak.

Lebih jauh lagi, percaya atau tidak kalau menulis jurnal keuangan dan perencanaan keuangan yang matang merupakan satu langkah awal penting menuju kontrol penuh atas keuangan diri dan keluarga Anda nantinya.

Orang yang memiliki jurnal keuangan harian biasanya akan lebih disiplin terhadap pengeluaran dan pemasukan mereka setiap harinya. Begitu pula Anda, meski di awal berat namun pasti Anda akan merasakan manfaatnya di masa mendatang.

Tidak Mempersiapkan Dana Darurat

uang

Dana darurat merupakan salah satu dana yang seringkali dilupakan oleh para milenials. Apalagi bagi milenials yang baru mendapatkan uang sendiri, biasanya sih mereka cenderung lupa untuk menyiapkan dana-dana semacam ini.

Alasannya karena kebutuhan dan keinginan mereka yang cukup tinggi, dan barangkali banyak milenials yang merasa aman dengan masa depan mereka. Mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga kejadian-kejadian darurat yang mungkin saja menimpa di masa mendatang.

Apalagi bagi kamu yang sudah memiliki tabungan hari tua, banyak yang justru lupa menyiapkan dana darurat. Alasannya lagi-lagi karena merasa aman sudah memiliki dana atau tabungan hari tua.

Padahal apabila Anda sudah mempersiapkan dana darurat Anda sendiri, Anda tidak perlu mengambil uang di dalam tabungan hari tua Anda bila terjadi sesuatu yang membutuhkan uang secara mendadak, misalnya bila perusahaan tempat Anda bekerja tiba-tiba ditutup.

Lalu berapa banyak sih sebenarnya uang darurat yang harus disimpan. Sebenarnya ada banyak cara menghitung dana darurat yang perlu disiapkan, namun kami menyarankan Anda setidaknya memiliki dana darurat sebesar 3 kali biaya bulanan Anda.

Adapun bila Anda sudah berkeluarga maka dana darurat yang harus ada di dalam tabungan Anda adalah 6 kali biaya bulanan Anda. Lebih jauh lagi bila pekerjaan Anda memiliki risiko tinggi untuk terjadinya turnover atau pemecatan, maka Anda harus mempersiapkan dana darurat sebanyak 12 kali biaya bulanan Anda.

Perlu diingat pula untuk menyimpan dana darurat, Anda tidak boleh memilih saham ataupun tempat-tempat investasi dimana Anda sulit menarik dana tersebut bila terjadi kejadian darurat. Mudahnya Anda bisa menyimpan di tempat-tempat dengan risiko rendah, bagi Anda untuk kehilangan dana tersebut.

Penutup

Meski tampak sulit tapi percayalah bila Anda sabar dan mau menghindari beberapa kebiasaan jelek ini, Anda akan menghindari masalah keuangan di masa mendatang. Tapi memang untuk mengubah suatu kebiasaan tentu saja Anda membutuhkan konsistensi dan waktu yang cukup.

Selain itu bila Anda memang berjiwa bisnis Anda bisa loh mencoba berbagai bisnis yang saat ini menurut kami relatif mudah dilakukan, mulai dari dropshipper, reseller, bisnis makanan, franchise, dan masih banyak lagi.

Semangat!

Komentar

Artikel Terkait
Penghasilan 7 Mar 2020

Intip Besaran Gaji PNS di Tahun 2020 Terbaru

Pegawai negeri sipil atau PNS merupakan salah satu pekerjaan yang boleh jadi merupakan pekerjaan idaman bagi banyak orang di Indonesia. Bahkan menurut kami pekerjaan ini bukan hanya jadi pekerjaan generasi Y saja. Terbukti dari membludaknya pelamar CPNS di tahun lalu dan tahun ini yang pastinya kebanyakan diisi oleh generasi z dan generasi milenial. Tidak salah […]

Penghasilan 7 Mar 2020

Gaji Satpol PP di Tahun 2020 (Terbaru)

Apakah kamu tahu bahwa satpol PP salah satu perangkat pemerintah yang seringkali dipandang sebelah mata padahal Satpoll PP diketahui memiliki banyak manfaat bagi pemerintah daerah yang bersangkutan. Satpol PP sendiri merupakan perangkat pemerintah yang merupakan perpanjangan tangan dari kepala daerah. Dimana kepala daerah bisa mengandalkan satpol PP  sebagai salah satu perangkat untuk menjaga keteritiban umum […]

Penghasilan 5 Mar 2020

Apa itu Cek, dan Bagaimana Cara Menggunakannya?

Kalau kamu pernah menonton film di Hollywood, kamu pasti tidak asing dengan yang namanya cek. Biasanya si pemeran orang kaya akan menuliskan Nominal uang di selembar kertas untuk diberikan kepada orang lain. Nantinya orang yang diberikan selembar cek tersebut akan menukarkan uang sejumlah dengan Nominal uang yang tertera di dalam teks tersebut. Tapi apakah benar […]